Kamis, 15/Okt/2026 12:40 WIB

Sprint Race Kali Pertama Digelar di F1 Monaco 2026

Balapan F1 Monaco tahun 2026 lebih menarik dan menantang



OTOSTAR.ID, Monaco - Monaco selalu punya tempat khusus di kalender Formula 1. Jalanan sempit Monte Carlo, deretan kapal pesiar, gemerlap kota, dan atmosfer glamornya membuat Grand Prix Monaco menjadi salah satu balapan paling ikonik dalam sejarah F1.

Namun, di balik segala kemewahannya, ada satu persoalan yang terus muncul: balapannya sendiri sering kali tidak menawarkan banyak aksi salip-menyalip.

Mulai musim 2027, Formula 1 mencoba memberikan sedikit perubahan. Monaco akan menjadi salah satu dari 10 seri yang menggunakan format sprint weekend.

Artinya, akhir pekan di Monte Carlo nantinya akan memiliki tambahan sprint race di samping Grand Prix utama.

Keputusan ini sempat memancing berbagai reaksi. Dengan karakter lintasan Monaco yang sangat sulit untuk melakukan overtaking, kehadiran sprint race justru membuat sebagian orang bertanya-tanya apakah format baru ini benar-benar akan membuat balapan lebih menarik.

Namun, rupanya tidak semua pembalap melihatnya sebagai masalah.

Lebih banyak sesi kualifikasi, lebih banyak peluang

Bagi Sergio Perez, format sprint justru bisa membuat akhir pekan Monaco terasa lebih dinamis.

Menurutnya, selama beberapa tahun terakhir, apa yang terjadi pada Sabtu terasa sangat menentukan jalannya akhir pekan. Dengan adanya sprint, situasinya bisa sedikit lebih berubah-ubah.

Ia pun melihat format baru tersebut sebagai sesuatu yang menarik untuk dicoba, terutama karena akan membuat jalannya akhir pekan tidak terlalu mudah ditebak.

Pendapat serupa datang dari George Russell. Menurut pembalap Mercedes tersebut, setelah format sprint cukup lama diterapkan di beberapa seri, akhir pekan F1 dengan format biasa mulai terasa panjang.

Pada akhirnya, yang dicari pembalap bukan hanya sensasi mengendarai mobil F1, tetapi juga kompetisi dan adrenalin yang muncul ketika berada dalam sesi kualifikasi.

Dan di Monaco, sesi kualifikasi memang punya daya tarik tersendiri.

Russell menilai sprint weekend dapat mengimbangi kemungkinan minimnya aksi dalam balapan utama dengan menghadirkan Jumat yang lebih menarik. Baginya, sprint qualifying jauh lebih menegangkan dibandingkan sesi latihan bebas kedua atau FP2.

Oscar Piastri: Awalnya bingung, tapi ada sisi menariknya

Oscar Piastri mengaku tidak langsung memahami alasan Monaco dipilih sebagai lokasi sprint. Namun, setelah melihat formatnya lebih jauh, pembalap McLaren tersebut mulai menemukan sisi menarik dari keputusan itu.

Salah satunya adalah kemungkinan adanya dua sesi kualifikasi dalam satu akhir pekan.

Biasanya, tim dan pembalap memiliki waktu sepanjang akhir pekan untuk terus menyempurnakan set-up mobil sebelum memasuki kualifikasi utama pada Sabtu sore.

Monaco sendiri dikenal sebagai sirkuit yang membuat setiap peningkatan kecil bisa sangat berarti.

Namun, dengan adanya sprint weekend, proses tersebut akan berlangsung dengan waktu persiapan yang lebih terbatas.

Bagi Piastri, justru keterbatasan itulah yang bisa membuat akhir pekan Monaco menjadi lebih menarik.

Tim tidak lagi punya kemewahan untuk terus membangun performa mobil hingga Sabtu. Mereka harus lebih cepat menemukan ritme dan mengambil keputusan.

Jadi, meskipun ia tidak berharap sprint race di Monaco menjadi yang paling seru dalam kalender, keberadaan dua sesi kualifikasi bisa memberikan dinamika baru.

Lewis Hamilton masih belum yakin

Di antara para pembalap yang memberikan pandangan soal format baru ini, Lewis Hamilton menjadi salah satu yang paling kritis.

Pembalap Ferrari tersebut mengaku belum melihat alasan yang cukup kuat untuk menjadikan sprint sebagai jawaban atas persoalan Monaco.

Menurutnya, menambahkan sprint memang memberikan satu sesi kualifikasi ekstra, dan itu merupakan hal yang menarik. Namun, Monaco membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar mengubah format akhir pekannya.

Bagi Hamilton, Monaco memang berbeda dari sirkuit lain. Karena itu, menurutnya, balapan di sana seharusnya tidak harus mengikuti formula yang sama dengan seri-seri lainnya.

Ia bahkan menilai Monaco membutuhkan pendekatan yang benar-benar berbeda. Sprint race memang telah membawa elemen baru ke dalam F1 secara keseluruhan, tetapi menurut Hamilton, format tersebut belum tentu menjadi solusi untuk karakter unik Monaco.

Terlepas dari keindahan Monte Carlo dan pengalaman mengemudi yang luar biasa di sana, tantangan terbesar Monaco tetap sama: lintasannya sangat sulit untuk menghasilkan banyak overtaking.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar bagaimana membuat akhir pekan Monaco lebih padat, tetapi bagaimana membuat balapannya sendiri lebih kompetitif tanpa menghilangkan karakter khas Monaco.

Verstappen memilih untuk menjalaninya

Max Verstappen mengambil pendekatan yang jauh lebih sederhana. Ia tidak terlalu mempermasalahkan di mana sprint race ditempatkan dalam kalender.

Menurutnya, jika sebuah seri sudah ditetapkan sebagai sprint weekend, tugasnya adalah ikut bertanding dan berusaha mendapatkan hasil terbaik. Baginya, kemenangan di sprint race bukan sesuatu yang memiliki bobot emosional sebesar kemenangan di Grand Prix utama.

Sejak masih kecil, kata Verstappen, yang selalu menjadi tujuan utama adalah Grand Prix.

Dan mungkin, di situlah perdebatan mengenai Monaco akan terus berputar.

Sprint race bisa memberikan sesi tambahan, tekanan baru, dan lebih banyak momen kompetitif sepanjang akhir pekan. Tetapi apakah itu cukup untuk menyelesaikan persoalan klasik Monaco?

Untuk saat ini, jawabannya masih terbuka. Yang jelas, ketika Formula 1 kembali ke jalanan Monte Carlo pada 2027, Monaco akan mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukannya sebelumnya.

Dan untuk sebuah sirkuit yang begitu lekat dengan tradisi, perubahan kecil saja sudah cukup untuk membuat semua orang memperhatikannya. (**)




BACA JUGA